Rabu, 12 Oktober 2011

PERLINDUNGAN USAHA

A. Pengertian Perlindungan Usaha
Salah satu yang menjadi momok bagi perusahaan adalah risiko kerugian terhadap jiwa dan hartanya. Kerugian ini sering terjadi tampa diduga sebelumnya. Resiko kerugian ini sering terjadi dan mengancam nyawa atau jiwa seseorang, misalnya menyebabkan kematian atau cacat seumur hidup. Selain itu, risiko kerugian juga dapat mengancam harta dan benda pengusahaa tersebut, seperti resiko kehilangan, kerusakan,kebakaran, dan kerugian lainnya. Resiko-resiko ini pada akhirnya akan menelan biaya besar dan membuat kehidupan usaha tersebut menjadi bangkrut.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa dalam melakukan uasha selalu ada resiko kerugian. Jadi, hal ini sebenarnya tidak perlu di takutkan selama kita mampu meminimalkan risiko tersebut. Sulit memang untuk menghilangkan segala risiko yang timbul seperti di atas. Akan tetapih, yang penting bagaimana risiko dapat kita minimalkan dengan berbagai cara. Agar risiko yang kita minimalkan dengan berbagai cara. Agar risiko yang kalaupun terjadi tidak sebesar dengan yang sesunguhnya jika dikelola dengan baik. Artinya risiko yang akan terjadi dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan.
Pengusaha yang baru atau pengusaha yang dikatagorikan yang dikatagorikan tidak terlalu besar omsetnya, kadang-kadang menghadapi masalah dengan ketidaktahuan akan arti risiko atau sebagai memandang enteng terhadap risiko kerugian ini tidak memadang sasaran tidak terlalu besar omsetnya, kadang-kadang menghadapi masalah dengan ketidaktahuan akan arti risiko atau sebagai memandang enteng terhadap risiko kerugian ini tidak memadang sasaran tidak terlalu besar omsetnya, kadang-kadang menghadapi masalah dengan ketidaktahuan akan arti risiko atau sebagai memandang enteng terhadap risiko kerugian ini tidak memadang sasaran, siapa pun orngnya dapat mengalami, misalnya risiko kebakaran, kerusakan, atau kehilangan.
Dalam praktiknya risiko dapat terjadi karena dua hal, yaitu :
1. Karena ada unsur sengaja yang harus dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, misalnya oleh karyawan atau pihak-pihak yang tidak atau tidak suka kepada perusahaan kita seperti masyarakat umum atau pesaingan ;
2. Risiko karena tidak sengaja, seperti terjadi kebakaran, kehilangan, kerusakan, atau kejadian alam. Untuk risiko yang tid atau kejadian alam. Untuk risiko yang tidak sengaja memang agak sulit untuk dikendalikan kerena terjadinya tidak dapat kita prediksi sebelumnya.

Agar segala resiko di atas dapat dihindarkan dan kerugian dapat diminimalkan, usaha yang kita jalankan, baik jiwa maupun harta yang terkandung di dalamnya, perlu diberikan payung perlindungan. Payung ini akan mampu menggantikan secara maksimal atas risiko kerugian yang akan diderita. Tampa payung perlindungan , kita takan mendapat penggantian apa pun atau dengan kata lain benar-benar rugi total.
Payung untuk melindungi usaha dapat dilakukan dengan berbagai cara berikut.
1. Menetapkan prosedur dan tata tertib kerja
Dengan mematuhi dan melaksanakan semua prosedur dan tata tertib kerja secara disiplin oleh seluruh karyawan, kemungkinan terjadi kesalahan dapat diperkecil. Hal ini berakti dapat meminimalkan risiko kerugian.
2. Menyediakan Alat Pengamana
Pengusahaan hendaknya menyiapkan alat bantu bagi seluruh karyawan agar bila terjadi sesuatu, fungsi alat ini dapat melindungi kariyawan dan harta perusahaan dari risiko kerugian, misalnya perusahaan perlu menyediakan alat pemadam kebakaran.
3. Meminta Pertanggungan Perusahaan Asuransi
Perusahaan hendaknya mengasuransikan karyawan, harta, dan seluruh kegiatan perusahaan kepada pihak asuran si tertentu.
B. Jenis-jenis Risiko Kerugian
Dalam menjalankan suatu usaha ada berbagai jenis resiko yang akan dihadapi oleh perusahaan. Masing-masing resiko memiliki tingkat kerugian tersendiri. Besar kecil risiko yang akan dihadapi diukur dari tingkat kerusakan dari harta benda yang dimiliki. Hanya saja, kepastian terjadi atau tidaknya risiko tersebut sulit diukur.
Dalam kenyataannya risiko yang akan dihadapi oleh seorang pengusaha adalah sebagai berikut :
1. Risiko jiwa;
2. Risiko kehilangan harta;
3. Risiko kerusakan harta;
4. Risiko penggantian kepada pihak lain; dan
5. Risiko lainya.

Risiko jiwa artinya jiwa pengusaha dan seluruh karyawannya akan terancam pada saat mereka melakukan perkejaan (sedang berkeja). Risiko jiwa yang dapat terjadi antara lain kecelakaan dalam menjalankan tugas akibat penggunaan mesin; tersengat listrik, tertabrak kendaraan di jalan atau menabrak orang benda pada saat membawa kendaraan; terbakat, tengelam, dan resiko jiwa lainya. Risiko jiwa ini dapat menyebabkan seseorang menjadi cacat sementara, cacat seumur hidup, atau menyebabkan kematian.
Risiko kehilangan harta perusahaan maksudnya kemungkinan harta milik perusahaan hilang karena kecurian, tengelam, terbakar, atau kelalain lainnya. Faktor kecurian dapat terjadi pada peralatan, hasil produksi, sarana tranportasi seperti mobil, atau kehilangan barang muatan karena tenggela, kehilangan sejumlah harta karena terbakar, dan berbagai bentuk kehilangan lainnya seperti kesalahan dalam penyetoran, pembayaran, atau akibat kesalahan pencatatan keuangan.
Risiko kerusakan harta dapat juga disebabkan oleh berbagai hal sehingga merugikan perusahaan.kerusakan harta dapat terjadi karena kebakaran atau kebanjiran yang menyebabkan kerusakan kualitas atau nilai harta tersebut. Risiko kerusakan harta lainnya dapat pula terjadi akibat pengangkutan atau kelalaian karyawan dalam proses produksi. Semakin banyak kerusakan, semakin besar pula tingkat kerugian yang diderita perusahaan.
Risiko perhentian kepada pihak lain merupakan risiko yang disebabkan oleh kesalahan perusahaan, dalam hal ini karyawan yang menyebabkan pihak lain menderita kerugian. Misalnya, karyawan perusahaan (sopir) menabrak orang lain yang mengakibatkan kerugian di pihak lain, baik jiwa maupu harta benda. Risiko ini dapat pula timbul karena terhambat melakukan pengintaun benda yang mengalami kerugian patut dan wajib mendapatkan ganti rugi dari perusahaan.
Pihak asuransi biasanya mengklasifikasikan suatu risiko ke dalam tiga jenis berikut.
1. Risiko murni
Risiko murni adalah ketidakpastian terjadinya sesuatu kerugian atau ada peluang merugi atas harta atau jiwa perusahaan. Risiko seprti ini misalnya rumah terbakar, mobil tertabrak, muatan kapal tenggelam, atau risiko murni lainnya.
2. Risiko spekulatif
Risiko spekulatif terjadi atas dua kemungkinan, yaitu adanya peluang untuk memperoleh keuntungan dan adanya peluang untuk menderita kerugian.
3. Risiko Individu
Risiko individu adalah risiko yang ditanggung oleh pribadi seseorang. Risiko jenis ini terdiri dari tiga jenis berikut.
a. Risiko pribadi,misalnya menderita sakit sehingga memerlukan biaya pengobatan; risiko kehilangan perkejaan akibat kelalain pegawai tersebut, akibat perusahaan bangkrut, atau karyawan tersebut meninggal dunia.
b. Risiko harta, misalanya kehilangan harta benda karena dicuri atau risiko rusaknya harta tersebut sehinggamengurangi atau bahkan menghilangkan nilai harta tersebut.
c. Risiko tanggung gugat adalah risiko menanggung kerugian seseorang. Sebagai contoh, kelalaian karyawan dalam mengendarai kendaraan di jalan sehingga menyebabkan orang tertabrak. Karena kesalahan karyawan tersebut, kerusakan atau kerugian pihak yang tertabrak.
C. Cara Melindungi Usaha
risiko yang akan dihadapi perusahaan dapat terjadi setiap saat, baik risiko yang sudah dapat diprediksi (diramal) maupun yang belum. Agar perusahaan tidak mengalami kerugian yang besar, risiko ini perlu memperoleh perlindungan. Perlindungan untuk kasus penggantian terhadap risiko yang mukin timbul dapat dilakukan dengan mengasuransikannya kepada pihak asuransi. Dengan memberikan perlindungan terhadap risiko besarnya risiko kerugian dapat diminimalkan.
Asuransi yang berasal dari bahasa inggris insurance adalah menanggung sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi; sedangkan kata assurance brakti menanggung sesuatu yang pasti terjadi.
Sementara itu, pengertian menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1992 yang dimaksud dengan asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi untuk memberikan pengantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hokum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti atau untuk memberikan sesuatu pembayaran yang didasarkan atas meningeal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
Kegiatan pertanggungan ini akan menyebabkan tertanggung (nasabah) untuk membayar sejumlah premi kepada pihak asauransi (penanggung). Besarnya premi dibayar tertanggung ditaksir terlebih dulu atau diperhitungkan dengan nilai risiko yang akan dihadapi, semakin besar risiko yang akan dihadapi semakin besar pula premi yang dibayar dan demikian pula sebaliknya.
Setiap perjanjian asuransi akan tertuang dalam polis asuransi. Di dalam polis tersebut dimuat, syarat-syarat, hak, dan kewajiban masing-masing pihak. Selain itu, juga dimuat jumlah uang yang dipertanggungkan, jangka waktu asuransi, dan ditandatangani oleh kedua belah pihak.
Dalam praktisnya terhadap berbagai jenis asuransi yang dapat dipilih oleh perusahaan. Pemilihan jenis asuransi tergantung dari jenis pertanggungan yang diinginkan.
Berikut ini jenis-jenis asuransi yang ada di Indonesia.
1. Dilihat dari segi fungsinya
a. Asuransi Kerugian (non life insurance)
- Asuransi Kebakaran, meliputi kebakaran, peledakan, petir, kecelakaan pesawat terbang.
- Asuransi pengangkutan.
- Asuransi aneka, termasuk asuransi kebakaran dan pengangkutan, kendaraan bermotor, kecelakaan, pencurian, dan lainnya.
b. Asuransi jiwa (life insurance)
- Asuransi berjangka
- Asuransi tabungan
- Asuransi seumur hidup
c. Reasuransi (reinsurance)
2. Dilihat dari segi kepemilikan
a. Milik pemerintah
b. Milik swasta nasional
c. Milik asing
d. Milik campuran
Ada beberapa tujuan atau keuntungan yang dapat dinikmati dari mengasuransikan karyawan dan harta milik seluruh perusahaan. Tujuan utamanya adalah melindungi karyawan dan harta perusahaan dari resiko kerugian dan menjaga masa depan perusahaan.
Adapun tujuan yang diinginkan oleh perusahaan asuransi kepada para klien adalah sebagai berikut :
1. Memberikan rasa aman;
2. Memberikan rasa ketenangan berusaha;
3. Merupakan simpanan yang pada saat jatuh tempo dapat diambil;
4. Terhindar dari risiko kerugian;
5. Terhindar dari risiko kehilangan;
6. Memperboleh penghasilan di masa yang akan datang;
7. Memperboleh penggantian akibat kerusakan dan kehilangan milik sendiri atau milik orang lain.
Memberikan rasa aman berakti bahwa jiwa atau nyawa keryawan atau harta benda yang dimiliki perusahaan akan aman dari kerugian. Meskipun rugi dari segi jumlah, kerugian tidak sebesar jika tidak diasuransikan.
Perasaan tenang amat penting bagi siapa pun yang sedang menjalankan usaha. Rasa tenang di sini berarti tidak adanya kecemasan atau ketakutan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tampa rasa tenang, tujuan tidak dapat tercapai dengan mudah. Jadi, tujuan mengasuransikan harta benda perusahaan adalah untuk memberikan rasa tenang dalam berusaha.
Asuransi merupakan simpanan yang pada saat jatuh tempo dapat diambil berlaku untuk jenis asuransi tertentu. Misalnya, asuransi beasiswa yang memiliki jangka waktu tertentu. Setoran premi yang dibayarkan oleh seseorang akan diambil pada saat pension (jatuh tempo). Demikian pula dengan asuransi beasiswa dapat diambil pada saat si anak masuk Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Atas, atau perguruan Tinggi.
Asuransi dapat menghindarkan pengusaha dari risiko kerugian. Jika tidak terjadi risiko, perusahaan hanya mengalami kerugian atas prime yang disetor. Sementara itu, bila terjadi risiko kerugian, tidak sebesar harta yang mengalami kerugian. Misalnya, jika tidak diasuransikan, pengusaha akan menderita kerugian 100%, tetapi dengan diansurasikan mendapat pengantian sebesar 80%, misalnyadari nilai harta yang mengalami kerusakan. Bahkan, ada usaha yang diganti 100% oleh pihak asuransi. Hal ini tergantung dari objek yang diasuransikan.
Asuransi dapat menghindarkan pengusaha dari risiko kehilangan berarti kehilangan atas nyawa atau harta benda milik perusahaan akan memperoleh penggantian sekalipun tidak seratus persen. Paling tidak kerugian akibat kehilangan dapat diminimalkan apabila diansuransikan atau bagi mereka yang kehilangan jiwa masih memperoleh santunan untuk kerluarga yang ditingalkan guna meringankan beban keluarga yang terkenak musibah.
Memperoleh penghasilan di masa yang akan datang dapat diperoleh dari asuransi hari tua (pensiun). Dana yang dibayarkan perusahaan atau seseorang melalui premi setiap bulan akan dapat diambil oleh seseorang yang telah memasuki usia pansiun, misalnya 55 tahun.
Memperoleh penggantian akibat kerusakan dan kehilangan milik sendiri maupun milik orang lain berakti apabila terjadi kerusakan atau kehilangan barang, perusahaan akan memperoleh pengantian. Demikian juga jika kerusakan terjadi pada orang lain akibat perbuatan kita seperti menabrak harta benda atau jiwa, seseorang juga akan memperoleh pengantian.
D. Cara Menghindari Risiko Kerugian
Risiko kerugian selalu ada dan relative sulit untuk dihindari sama sekali. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa risiko terjadi karena dua sebab. Pertama karena unsur kesengajaan dan kedua unsur ketidaksengajaan. Selalu ada celah untuk menghindari terjadinya kedua unsur risiko tersebut.
Banyak cara untuk menghindari risiko kerugian. Berikut ini ada beberapa cara sebagai payung untuk melindungi usaha dari risiko kerugian, yaitu dengan cara :
1. Menetapkan prosedur dan tartib kerja;
2. Menyediakan alat pengamanan;
3. Meminta pertanggungan asuransi

2 komentar: